Orang Tua Curigai Kelalai, Hanya Bertahan Hidup 3 Jam Pasca Operasi, Bayi Perempuan Meninggal Dunia di RSUD Pandan

POLISI NEWS.Com | TAPTENG. Sebuah tragedi memilukan menimpa pasangan suami istri di Kabupaten Tapanuli Tengah. Seorang bayi perempuan yang baru dilahirkan melalui proses operasi caesar, meninggal dunia hanya berselang tiga jam setelah dilahirkan. Selasa (28/4/2026).

Kejadian naas ini berlangsung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandan, pada Senin, 27 April 2026.

Menurut keterangan sang ayah, Laris Silitonga, kondisi janin dan ibunya dinyatakan sehat serta tidak memiliki kelainan sedikitpun berdasarkan hasil pemeriksaan USG yang dilakukan sebanyak tiga kali.

“Dari awal USG sampai yang ketiga kalinya, dokter menyatakan bayi dalam kandungan istri saya sehat-sehat saja, tidak ada kelainan. Dokter Dina pun mengatakan perkiraan kelahiran normal adalah tanggal 3 sampai 5 Mei 2026,” ujar Laris saat ditemui, Selasa (28/4).

Kendati demikian, proses persalinan akhirnya dilakukan lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan. Hal ini lantaran sang istri meminta untuk dilakukan penutupan kandungan (sterilisasi), sehingga tim medis menyarankan operasi dilakukan sebelum tanggal 3 Mei, tepatnya pada, 27 April 2026.

Tubuh Penuh Luka Lebam 

Setelah proses operasi selesai dilakukan, bayi sempat dirawat di ruang perawatan bayi. Namun, tak disangka, hanya dalam waktu kurang lebih tiga jam, nyawa bayi tak dapat tertolong.

Yang membuat Laris semakin terpukul dan curiga, saat melihat jasad anaknya, terdapat banyak luka lebam dan kemerahan di sekujur tubuh bayi, termasuk di kedua pipi dan leher.

“Anak saya meninggal dengan tubuh penuh lebam dan merah. Padahal dokter bilang jauh sebelum operasi anak saya selalu sehat. Saya berpikir ada yang kurang beres, mungkin dokternya kurang berpengalaman,” tuturnya dengan nada emosi.

Laris juga mempertanyakan pernyataan yang kontradiktif antara pihak medis. Ia mengaku mendengar keluhan dari beberapa perawat yang menyebutkan usia kandungan sudah terlambat bulan, padahal dokter penanganan menyatakan jadwal kelahiran masih di awal Mei.

Dituduh Gagal Napas, Keluarga Tak Terima 

Pihak manajemen RSUD Pandan melalui rapat yang dihadiri Direktur dan dokter spesialis menyatakan bahwa penyebab kematian bayi tersebut diduga karena gagal pernapasan. Namun, jawaban ini sama sekali tidak diterima oleh keluarga.

“Mereka bilang penyebabnya penyakit dan gagal pernapasan. Kami tidak percaya karena banyak sekali kejanggalan. Kami menduga kematian anak kami akibat kelalaian petugas atau sistem operasi yang terlalu dipaksakan sehingga pelayanan tidak maksimal dan profesional,” tegasnya.

Siap Tempuh Jalur Hukum

Karena merasa keadilan belum didapatkan, Laris Silitonga memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Ia berencana melaporkan kejadian ini melalui bantuan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Hal itu dibenarkan oleh Ketua DPC LSM Elang Mas Tapteng, Immer Silitonga. Ia mengaku telah menerima laporan dari keluarga korban yang datang ke kantornya di Jl. Dangol Lbn Tobing Pandan.

“Memang benar laporan dari orang tua korban sudah ada dan diterima sekretaris kami. Namun, kami harus mendalami permasalahan ini terlebih dahulu, baru setelah itu akan kami laporkan ke pihak kepolisian Tapteng, bahkan bisa sampai ke Poldasu,” pungkas Immer.

Hingga berita ini diturunkan, proses pendalaman kasus masih terus dilakukan oleh pihak LSM dan keluarga untuk memastikan kebenaran dan meminta pertanggungjawaban atas meninggalnya bayi tersebut.

Jurnalis | Oloan Sitompul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *