POLISINEWS.com | BAGOR. Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Regional Gunung Gede Pangrango Halimun Salak (Gedepahala) mengidentifikasi betonisasi masif dan alih fungsi lahan sebagai penyebab utama banjir serta luapan Sungai Ciliwung yang menerjang wilayah Bogor dan Depok pada Senin malam hingga Selasa dini hari (18-19/5/2026).
Ketua FK3I Regional Gedepahala, Ligar, S.R., menjelaskan bahwa perubahan geografis akibat konsep betonisasi di hulu-hilir telah menghilangkan daya serap tanah. “Air hujan tidak lagi terserap, melainkan langsung menjadi limpasan permukaan ke permukiman dataran rendah dan sungai,” ujar Ligar saat mendampingi evakuasi korban hanyut di Jembatan Panus, Depok, Selasa (19/5/2026) pagi.
Ligar menyoroti tiga faktor kunci pemicu bencana adalah betonisasi Sempadan Sungai dengan pengubahan bibir sungai dengan beton mengurangi area resapan alami.
Alih Fungsi Lahan
Berkurangnya kawasan resapan air di luar hutan meningkatkan debit air yang masuk ke sungai secara drastis.
Sedimentasi: Pendangkalan dasar sungai akibat sedimentasi mengurangi kapasitas tampung air, sehingga elevasi air lebih cepat naik.
“Yang berkurang adalah resapan di luar kawasan hutan. Ketika hujan deras, daya dukung tanah minim, sehingga penambahan debit air ke sungai terjadi sangat cepat,” imbuhnya.
Sebelumnya, data pemantauan menunjukkan Tinggi Muka Air (TMA) di Bendung Katulampa tercatat 40 cm (Status Siaga 4) pada 19 Mei 2026. Kondisi serupa terpantau normal atau Siaga 4 di sejumlah pintu air Jakarta seperti Manggarai, Karet, Krukut Hulu, Pesanggrahan, Angke Hulu, Waduk Pluit, Cipinang Hulu, Sunter Hulu, dan Pulo Gadung.
Jurnalis | Ricad




















