Warga Desa Dukupuntang, Cirebon, Pertanyakan Dana Swadaya untuk Pembangunan Jembatan: Diduga Tidak Transparan

POLISINEWS.com | KAB. CIREBON Warga Desa Dukupuntang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, mempertanyakan keberadaan dana swadaya masyarakat senilai Rp31 juta lebih yang dikumpulkan untuk pembangunan jembatan di Blok Puntang Kulon, penghubung RT 10 RW 04. Jembatan tersebut direncanakan berukuran 10 meter x 4 meter.

Pembangunan jembatan ini dilatarbelakangi kondisi jembatan lama yang sudah tidak layak dilalui warga setempat. Untuk itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Dukupuntang menggelar Musyawarah Desa (Musdes). Hasil Musdes menyebutkan bahwa pembangunan jembatan akan menggunakan dana swadaya dari masyarakat, dengan material utama besi beton.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda. Pada papan informasi proyek tercantum bahwa anggaran pembangunan berasal dari Dana Desa sebesar Rp48 juta, bukan dari dana swadaya. Hal ini memicu kebingungan dan pertanyaan serius dari warga: “Kemana uang hasil iuran masyarakat?”

Saat dikonfirmasi awak media pada Selasa, 12 Mei 2026, sejumlah warga mengungkapkan kejutan mereka saat melihat papan informasi proyek.

“Kami sebagai warga kaget saat melihat papan informasi menyatakan dana berasal dari Dana Desa, bukan dari swadaya. Lalu, kemana uang hasil iuran masyarakat? Bahkan, rencana awal dalam Musdes menyebutkan jembatan akan dibangun dengan rangka besi ‘ceker ayam’ dan dicor. Tapi nyatanya, tidak ada satu pun batang besi yang digunakan,” ujar seorang warga.

Warga juga menyayangkan kualitas konstruksi jembatan yang dinilai kurang kokoh karena tanpa pondasi besi, padahal jembatan tersebut akan dilalui kendaraan roda empat seperti mobil. Mereka khawatir jembatan mudah rusak akibat arus air deras, sehingga berpotensi membahayakan pengguna.

Sementara itu, Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) bernama Subandi, saat dikonfirmasi via WhatsApp pada Rabu, 13 Mei 2026, memberikan penjelasan berbeda.

“Benar, awalnya terpampang di papan informasi bahwa dana berasal dari Dana Desa sebesar Rp48 juta. Namun, dana tersebut masih utuh di rekening bendahara desa. Saat ini, proyek sedang berjalan menggunakan dana swadaya, dan papan informasi baru telah dipasang,” jelasnya.

Subandi menambahkan alasan mengapa tidak menggunakan rangka besi ceker ayam:

“Kalau pakai besi, biayanya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Kami memaksimalkan anggaran sesuai kebutuhan dan ketersediaan dana.”

Ia juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran wartawan sebagai kontrol sosial, serta berkomitmen untuk menampung dan menyelesaikan keluhan masyarakat.

“Terima kasih kepada wartawan yang hadir sebagai kontrol sosial. Ini membantu kami melengkapi kekurangan dan mendengarkan aspirasi warga,” pungkas Subandi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Kepala Desa Dukupuntang terkait dugaan ketidaktransparanan penggunaan dana swadaya masyarakat

Jurnalis: | Toto Sumanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *