Pengamat Ekonomi: Eksposure Festival Turut Mengangkat Geliat Sarung Majalaya

POLISI NEWS | KAB. BANGDUNG.-Sebuah pemberitaan di media nasional yang disiarkan pada Senin (3/4/23) lalu, viral mengangkat kisah tentang geliat Sarung Majalaya. Dalam berita tersebut, disebutkan bahwa Industri Sarung Majalaya yang sempat redup terkena dampak pandemi Covid-19, kini telah bangkit, dan menerima pesanan baik dari dalam maupun luar daerah, hingga para pengrajin sarung kewalahan.

Menanggapi hal tersebut, Akademisi sekaligus Pengamat Ekonomi, Denny Murdani S.Ikom, SM, MM, menyampaikan faktor-faktor yang mempengaruhi geliat kebangkitan sarung Majalaya. Kepada wartawan, Denny menyampaikan bahwa eksposure adalah salah satu faktor penentu larisnya penjualan sebuah produk. Peningkatan eksposure di momen yang tepat, dinilainya mampu secara signifikan mendongkrak penjualan Sarung Majalaya.

“Syarat sebuah produk menjadi laku di pasaran, itu adalah dia harus dikenal oleh target pasar. Setelah produk dikenal, pasar akan mempertimbangkan apakah mereka tertarik atau tidak dengan produk tersebut, dan ketika minat tadi hadir bersamaan dengan kebutuhan pasar, maka timbulah transaksi antara pembeli dengan pedagang.” ungkap Denny menjelaskan tentang proses terjadinya penjualan kepada wartawan.

Dalam hal sarung Majalaya, perhatian publik yang sempat teralihkan dari kebutuhan sarung selama Pandemi, menurut Denny, kembali muncul setelah beberapa elemen masyarakat Majalaya, yang didukung juga oleh banyak kalangan dari luar Majalaya, menciptakan Festival Sarung Majalaya (FSM) yang dinilainya mendongkrak eksposure sarung Majalaya hingga di level nasional.

“Berdasarkan data yang kami temukan dalam sebuah Jurnal, pengunjung FSM #1 tahun lalu, mencapai lebih dari 25.000 orang dari berbagai daerah di seluruh Nusantara. Acara ini juga dihadiri oleh 8 kementrian yang turut menggemakan eksposure sarung Majalaya secara eksponensial. Giat FSM#1 ini lalu disusul dengan Gema FSM#2 Maret lalu yang menghadirkan konsep Fashion Street yang dalam 1 akun sosial media saja, sudah diikuti oleh 400.000 orang pada hari pertama. Ini kami lihat merupakan sebuah faktor yang cukup signifikan dalam mendongkrak penjualan sarung Majalaya.” lanjut Denny.

Denny yang juga merupakan Ketua Forum Kerjasama Perguruan Tinggi (FKSPT) tersebut, menjelaskan bahwa upaya mengangkat eksposure Sarung Majalaya ini, juga tidak terlepas dari adanya nilai historis yang tak ternilai dari Sarung Majalaya yang berperan besar mengangkat Ekonomi Indonesia di era awal kemerdekaan.

“Salah satu faktor yang membuat orang mau membeli dan membagikan berita sarung Majalaya, adalah unsur historisnya. Sarung Majalaya sudah ada sejak abad 19 Masehi, dan juga berperan besar dalam menciptakan pondasi Ekonomi Indonesia di Era Kemerdekaan dulu. Hal ini membuat banyak orang Indonesia, bahkan luar Indonesia, merasa sebagai bagian dari tradisi sarung Majalaya. Hal inilah yang menjadi Unique Selling Proposition (USP) dari Sarung Majalaya, yang tidak akan pernah mampu ditiru oleh produk sarung lain.”tutur Denny.

Denny menyayangkan, bahwa tidak semua pihak mampu memahami dan melihat adanya keunggulan tersebut dari Brand, Sarung Majalaya.

“Berdasarkan temuan kami di lapangan, pemerintah Daerah tampaknya tidak menyadari keunggulan Sarung Majalaya. Hal ini dapat dilihat dari absennya Bupati dan Jajarannya dari gelaran Festival Sarung Majalaya, serta munculnya gagasan Bupati yang malah mengukuhkan Solokan Jeruk sebagai Kecamatan Sarung. Kami menilai kebijakan tersebut kurang tepat dan cenderung ahistoris.” Lanjut Denny.
Menurut Denny, pihaknya akan terus mengadvokasi munculnya produk-produk bercirikhas lokal sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, demi mengangkat geliat ekonomi kerakyatan dan masyarakat yang lebih sejahtera.

“Pada FSM# 2 tahun ini, kami turut mengirimkan 50an mahasiswa dalam Kuliah Lapangan Manajemen Ekspor. Pada kuliah tersebut, kami menggalang diskusi dengan sektor Industri Kecil Lokal yang mempunyai potensi pasar ekspor dalam meningkatkan devisa negara melalui pengembangan industri kecil sebagai penyokong ekonomi wilayah.” tutur Denny.

“Kami mendukung pengembangan potensi Sarung Majalaya, bagaimana dengan anda?” tutup Denny.

Jurnalis | Nurul | Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *