POLISI NEWS | JAKARTA. Di tengah mahalnya akses pendidikan berkualitas, sebuah gerakan sunyi bernama Scholarindo terus merajut asa anak bangsa.
Berawal dari kelas bahasa Inggris daring di masa pandemi yang diikuti 1.000 peserta, komunitas non-profit ini bertransformasi menjadi oase belajar gratis yang kini menjangkau wilayah dari Sabang hingga Merauke. Scholarindo membuktikan bahwa batas ekonomi dan geografis bukanlah penghalang untuk merengkuh ilmu pengetahuan.
Organisasi ini lahir dari pengalaman personal sang founder, Awalia Maulina, S.E., M.H., LL.M., yang pernah berjuang menempuh pendidikan tinggi dengan sumber daya terbatas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengalaman tersebut membentuk kesadaran bahwa ilmu adalah kunci memutus rantai keterbatasan. Bersama rekan terdekatnya, Dinda Noor Sofia, Awalia mendirikan wadah pendidikan yang dapat diakses siapa saja secara cuma-cuma.
“Scholarindo hadir sebagai rumah bersama bagi siapa saja yang haus akan pengetahuan tanpa memandang latar belakang,” ujar Awalia.
Langkah perdana dimulai pada 5 Januari 2021, tepat di tengah cengkeraman pandemi COVID-19. Antusiasme masyarakat luar biasa; sebanyak 1.000 pendaftar dari berbagai kalangan langsung bergabung dalam kelas bahasa Inggris online.
Angka ini menjadi bukti nyata tingginya kebutuhan ruang belajar inklusif. Kini, Scholarindo telah berkembang menaungi sembilan kelas bahasa berbeda serta memperluas horison melalui kelas offline seperti Bahasa Korea, tata rias, dan menjahit.
Keunikan Scholarindo terletak pada sistem kaderisasinya. Sebagian besar mentor dan co-mentor adalah alumni murid yang dulunya belajar dari nol, kini balik menebar manfaat secara sukarela tanpa memungut biaya.
Pendidikan di sini tidak hanya soal transfer ilmu, tetapi juga membangun kepekaan sosial. Hingga saat ini, Scholarindo telah menggelar lima kali gathering akbar, termasuk kunjungan ke panti asuhan, panti jompo, pusat rehabilitasi, dan Kantin 2000 sebagai wujud empati nyata.
Puncak kebersamaan terbaru terjadi pada 18–19 Juli 2026 dengan tema “SCHOLARVERSE 2026: From Online Connection to Real-Life Memories”. Acara ini diisi wisata edukasi budaya ke Monas, Perpusnas, Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, dan Kota Tua yang dipandu langsung oleh Adan, mentor sekaligus lulusan Sejarah UI. Napak tilas sejarah ini menyadarkan peserta akan pentingnya mengenang akar budaya di era modernisasi.
Kesuksesan perjalanan panjang ini ditopang oleh struktur kepengurusan yang solid dan profesional, mulai dari Board of Executive (Ms. Hesti Amalia Haerani & Mr. Muhammad Iqbal Immadudin Zaky), Direktur Ms. Mirza Melia Amatunnisaa, Wakil Direktur Ms. Isna Nuri Rahayu, Sekretaris Wahyu Dwi Nur Windha, Finance Rizka Kusumawijaya, Admin Offline Dyah Tiara Annisa Febrianti, Team Design (Eliza Wahyu Widyastuti, Roro Mar’atus Solikhah, Adinda Devita, Diana Rosita), Team Sosmed (Hana Aulia Hanifah, Evi Amaliyah, Machiko Jaya, Dania Widyawati Liawab), hingga Team Humas (Andini Putri, Dian Yuniar Septyani Putri, Nadiara).
Dengan semangat “Belajar dan Berbagi”, Scholarindo bertekad terus melebarkan sayap. Organisasi ini telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan takdir yang mengikat, melainkan batu loncatan melahirkan generasi cerdas, berempati, dan siap membangun masa depan bangsa. Scholarindo menghubungkan dunia maya menjadi kenangan nyata, merajut asa mencerdaskan kehidupan.
• Lai Antoni














