Viralnya Berita Media Online Mengenai PETI atau Biasa Disebut Gurandil

POLISI NEWS | LEBAK. Sering terjadinya banjir bandang di Cimadur, akibat perusahaan yang melakukan penambangan yang merubah habitat alam, dengan cara hutan digunduli dan gunung di ratakan. Hal tersebut disampaikan oleh tokoh Banten Buya Sujana Karis, dikediamannya di Lebak Banten, Ahad (29 /1/2023).

Tokoh Banten Buya Sujana Kari, merasa prihatin dengan penambangan yang merajalela dan wajib di tinjau kembali oleh Dinas Pertambangan dalam cara pengambilannya. Dan cara yang dilakukan PETI sudah tidak mencontoh pada PT. Antam Cikotok yang sekarang sudah pasca reklamasi walaupun itu peninggalan penjajah tapi tetap peduli lingkungan, bila dibandingkan dengan perusahaan yang sekarang ada sedikit aneh tapi nyata.

Dinas Lingkungan Hidup Lebak Banten segera bertindak tegas untuk menertibkan para penambang ilegal karena tata cara usaha penambangan dengan cara menggunduli hutan dan pembuangan limbah campur racun dibuangmya ke sungai. Bahkan Hutan tidak dijaga sedangkan batu-batu berada di sepanjang jalan.

Para penambang kini berada di Gunung luhur tebus warung Banten yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

“Menurut saya, ini sangat merusak alam; yang nantinya akan mengakibatkan tanah
longsor dan banjir menerjang kampung. Bahkan bulan kemarin dihantam banjir sampai menghabiskan puluhan rumah warga masyarakat di daerah selatan.

Dihitung secara logika, yang diuntungkan bagi penambang tapi yang dirugikan masyarakat sekitarnya. Dalam Cibung di Gurandil menurut pribahasa baris kolot ‘Hasilmu akan memakanmu, tanganmu akan menampar kakimu dan akan menjatuhkanmu, dan hartamu akan menghabiskan nyawamu’. Dalam bahasa Sunda, ‘Na petey moal ajur ku hiled, jengkol moal ajur ku hiled, petey lembur ajur ku pangseina, leweng gemah ku akhlak pamake manehna te nurut ka tuduh, te ngadenge Ka carek mongpologong ka angkuh na ke cilkalna geh ku kalakuan maneh na’. Lalu mau siapa yang akan disalahkan oleh dirimu, “pungkas Tokoh Banten Buya Sujana Karis.

Jurnalis | Dani Saeputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *