POLISINEWS.com | JAKARTA. Langkah sigap dan komitmen jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo dalam membantu korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat apresiasi luas. Respons cepat ini dinilai sebagai wujud nyata kehadiran negara di tengah situasi darurat.
Analis Kebijakan Publik dan Sosial-Politik Nasional, Nasky Putra Tandjung, menilai bahwa kehadiran Polri pascabencana NTT bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk konkret perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Kepemimpinan Empatis dan Responsif di Lokasi Bencana
ADVERTISEMENT
. SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Nasky, keputusan Kapolri untuk turun langsung meninjau pengungsian di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menunjukkan model kepemimpinan yang responsif dan empatik.
“Kehadiran pimpinan institusi negara di tengah masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan kebijakan penanganan bencana benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujar Nasky dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/8/2026).
Alumnus INDEF School of Political Economy tersebut menekankan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada proses administratif semata. Fungsi pelayanan publik Korps Bhayangkara harus memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat melalui tindakan cepat dan terukur.
Penyaluran Ratusan Ton Bantuan Logistik ke Manggarai
Polri tercatat telah menyalurkan 247,66 ton bantuan logistik dan kemanusiaan. Jumlah tersebut terdiri atas 19,59 ton dari Mabes Polri dan 228,07 ton dari lima Polda jajaran.
Bantuan logistik gempa NTT ini meliputi:
- Kebutuhan Dasar: Makanan, minuman, obat-obatan, pakaian, selimut, serta 500 mainan anak-anak.
- Fasilitas & Perlengkapan: Genset, terpal, 39 kasur, 10 tandon air, dan fasilitas pengolahan air bersih.
- Aksesibilitas : Dukungan akses sinyal internet dan armada kendaraan operasional.
- Khusus wilayah Manggarai dan Manggarai Timur, Polri mendistribusikan 3.500 paket bantuan sosial menggunakan enam truk operasional.
“Bantuan kemanusiaan pascabencana bukan sekadar bantuan material, tetapi juga membawa pesan bahwa korban bencana tidak berjuang sendirian,” tegas Nasky.
Pengerahan Personel dan Armada Udara-Laut
Guna mempercepat proses evakuasi dan penanganan medis, Polri mengerahkan 236 personel ke wilayah terdampak. Pasukan ini bertugas dalam pencarian korban (termasuk unit K9), pelayanan kesehatan, hingga identifikasi korban.
Untuk menembus wilayah sulit, Polri mengerahkan sejumlah armada strategis, antara lain : Kapal KP Bima 7014, 2 unit Helikopter AW 169 & 1 unit Helikopter Bell-429, Pesawat operasional jenis CN, Casa, dan Beechjet
Founder Nasky Milenial Center (NMC) ini menilai, penanganan tersebut telah memenuhi prinsip tata kelola kebijakan publik modern yang mengedepankan kecepatan respons dan koordinasi lintas sektor.
Wujud Nyata Paradigma “Polri Presisi”
Lebih lanjut, Penulis Buku “Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat” ini menyampaikan bahwa penanganan gempa NTT semakin memperkuat paradigma Polri Presisi dan Polri untuk Masyarakat.
Momentum ini juga dinilai sejalan dengan semangat HUT ke-81 Kemerdekaan RI, di mana nilai kemerdekaan diwujudkan melalui aksi kepedulian dan gotong royong antar-anak bangsa.
“Bantuan ini memberikan harapan baru bagi masyarakat NTT. Negara hadir, Polri hadir, dan seluruh elemen bangsa berdiri bersama mereka,” tutup Nasky.















