POLISI NEWS | MEDAN. Suasana di ruang Satintelkam Polrestabes Medan mendadak ricuh pada Senin (21/9/2026). Kericuhan dipicu oleh kedatangan pihak keluarga korban pencurian—yang kini justru ditetapkan sebagai tersangka dan daftar pencarian orang (DPO)—saat hendak menyerahkan surat pemberitahuan aksi demonstrasi.
Pihak keluarga mengaku sebelumnya diminta oleh penyidik Polsek Pancur Batu, Brigadir Shinto Sembiring, untuk menangkap sendiri terduga pelaku pencurian tersebut. Namun, nasib hukum mereka justru berbalik.
Kericuhan berawal saat keluarga menunggu hampir dua jam di ruang Satintelkam, tetapi surat pemberitahuan aksi mereka tak kunjung diterima. Petugas berkali-kali beralasan masih melakukan koordinasi tanpa menjelaskan secara rinci pihak yang dihubungi. Keluarga pun menilai personel Satintelkam sengaja berupaya menolak surat tersebut.
ADVERTISEMENT
. SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah ketegangan, keluarga menuntut kejelasan atas dua laporan polisi mereka yang dinilai mangkrak. Pertama, laporan dugaan fitnah terkait tuduhan pemerasan Rp250 juta yang dilayangkan orang tua terduga pelaku pencurian. Kedua, laporan dugaan penipuan bermodus surat perdamaian yang telah dilayangkan ke Polda Sumut.
“Kedua laporan tersebut sampai sekarang tidak diproses!” teriak salah seorang anggota keluarga di markas Polrestabes Medan.
“Tolong kami, Pak Prabowo! Tolong kami, Pak Gibran!” seru mereka.
Situasi makin memanas hingga seorang perempuan dari pihak keluarga pingsan di depan kantor Kapolrestabes Medan. Ia diduga kelelahan dan syok usai terlibat adu mulut dengan petugas akibat merasa dipermainkan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polrestabes Medan belum memberikan keterangan resmi terkait alasan penundaan penerimaan surat maupun kericuhan yang terjadi.
• Kontribusi Robet Chaniago















