POLISI NEWS | LANGKAT. Desa Kelantan menjadi salah satu desa terapung yang masih berdiri kokoh di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai desa terapung di Pangkalan Brandan, Kecamatan Berandan Barat.
Secara administratif, desa seluas 63,24 hektare yang berada di pesisir Sungai Babalan ini berbatasan langsung dengan Desa Perlis dan Sungai Kota Pangkalan Brandan. Desa Kelantan sendiri merupakan hasil pemekaran dari Desa Perlis pada 2004.
Asal-usul
ADVERTISEMENT
. SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut cerita warga, penduduk awal daerah ini berasal dari Semenanjung Malaya. Penelitian sejarah Desa Perlis mencatat peran dominan para penghijrah dari Negeri Perlis di awal pembentukan masyarakat pesisir tersebut. Mereka datang menyeberangi Selat Malaka menggunakan perahu pada era Kesultanan Langkat dengan membawa bahasa Melayu Patani.
Setibanya di lokasi, mereka bermukim di tepi Sungai Babalan dan bergotong royong membangun rumah panggung di sekitar kawasan hutan. Dari puluhan kepala keluarga pada masa itu, pemukiman berkembang dan diteruskan secara turun-temurun hingga saat ini.
Dahulu, daerah ini dikenal sebagai Kampung Kelantan atau kampung terapung yang masih masuk dalam wilayah administratif Desa Perlis. Sebagian warga juga menyebutnya Desa Khayangan karena jalan setapak di pemukiman ini berupa struktur semen bertiang di atas permukaan air.
Kondisi Masyarakat
Kepala Dusun Muklis menyebutkan jumlah penduduk Desa Kelantan saat ini mencapai sekitar 600 KK atau kurang lebih 4.000 jiwa, meski beberapa sumber lain mencatat ada hingga 700 KK. Mayoritas warga bersuku Melayu Patani, beragama Islam, dan telah mendiami kawasan di atas air laut ini selama puluhan tahun.
Mata pencaharian utama warga adalah nelayan tradisional dan pedagang. Untuk transportasi sehari-hari, masyarakat mengandalkan perahu dayung tradisional yang dinamai tambang. Jasa penyeberangan ini turut menjadi sumber penghasilan warga dengan tarif Rp 5.000 untuk penumpang umum dan Rp2.000 untuk anak sekolah.
Sektor perekonomian warga saat ini tengah menghadapi tantangan akibat hasil melaut yang tidak menentu. Menurut Azhar alias Rambo, salah seorang warga lokal, sebagian penduduk bertahan dengan menjadi perajin terasi (belacan) atau mengandalkan upah dari jasa mengupas kepiting. Hal senada disampaikan oleh Fitri, warga lainnya, yang menyebut pekerjaan mengupas kepiting banyak dilakukan oleh ibu-ibu untuk membantu menambah penghasilan keluarga.
Akses Pendidikan dan Transportasi
Hingga kini, Desa Kelantan belum memiliki fasilitas sekolah dasar (SDN/SD Swasta) maupun SMPN di dalam wilayahnya. Setiap pagi, ratusan anak sekolah harus menyeberang ke Pangkalan Brandan menggunakan perahu kayu. Terlepas dari kondisi pasang surut air laut, anak-anak tetap rutin berangkat sekolah.
Desa Kelantan berjarak sekitar dua jam perjalanan dengan bus dari Kota Medan menuju ke arah utara Pangkalan Brandan. Untuk mencapai lokasi desa, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi perahu dari dermaga penyeberangan setempat.
• Muslim Yusuf















