POLISINEWS.com |KAB. BOGOR. Pelepasliaran ikan saat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026 lalu memicu kekhawatiran peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia. Hasil survei di Telaga Saat, titik nol Sungai Ciliwung, Cisarua, mengungkapkan dominasi ikan asing yang mengancam ekosistem perairan hulu tersebut.
Dr. Noer Sarifah Ainy, M.Si., dari tim peneliti FMIPA UI menjelaskan bahwa ikan Belida Bangkok (Chitala lopis) yang dilepasliarkan oleh Sekda Kabupaten Bogor bukanlah spesies asli Indonesia. Berbeda dengan Belida Jawa yang polos, Chitala lopis memiliki pola bulatan khas di dekat sirip punggung dan ekor. Keberadaan spesies asing ini berisiko tinggi karena mereka bersaing memperebutkan pakan dan ruang hidup dengan ikan lokal.
“Tujuan pelepasliaran mungkin baik untuk ekonomi, namun dampak ekologisnya sering terabaikan. Ikan alien dapat mendominasi sumber daya hingga ikan asli kehilangan habitatnya,” ujar Dr. Noer, Kamis (16/7/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tim peneliti merekomendasikan Pemerintah Kabupaten Bogor segera melakukan netralisasi perairan melalui manajemen populasi atau eradikasi. Metode yang disarankan meliputi penjaringan massal atau event memancing selektif, di mana ikan asli dikembalikan ke air sementara ikan alien seperti Platy Pedang, Ikan Mas, Sapu-sapu, dan Nila dapat dikonsumsi. Setelah itu, perlu dilakukan restocking ikan asli untuk menjadikan Telaga Saat sebagai kawasan konservasi berbasis DAS pertama di Jabodetabek.
Dr. Noer juga menyoroti ketidaksesuaian habitat. Telaga Saat merupakan perairan tenang dengan suhu rendah, berbeda dari habitat alami Baung yang membutuhkan arus deras. Pelepasliaran di lokasi yang tidak sesuai berisiko gagal membentuk populasi stabil, atau sebaliknya, menjadi predator bagi larva ikan dan organisme dasar perairan. Selain itu, benih dari luar DAS Ciliwung berpotensi membawa penyakit dan parasit baru.
“Pelepasliaran harus didasarkan pada sejarah sebaran lokal dan kesesuaian mikrohabitat. Prioritas utama adalah spesies lokal yang toleran terhadap perairan tenang dan vegetasi air,” tegasnya. (*)
• Ricad














