POLISI NEWS | JAKARTA. Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah The 63rd International Association of Women Police (IAWP) Annual Training Conference 2026 yang digelar di Bali pada 20–24 September 2026.
Konferensi internasional tersebut diikuti sekitar 450 peserta dari 43 negara dengan mengusung tema “Women Leading Global Change”. Forum ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, inovasi, dan praktik terbaik di bidang kepolisian.
Analis Kebijakan Publik dan Sosial-Politik Nasional, Nasky Putra Tandjung, mengapresiasi penyelenggaraan IAWP 2026 di Indonesia. Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi momentum strategis bagi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk memperkuat jejaring dan kerja sama kepolisian di tingkat internasional.
ADVERTISEMENT
. SCROLL TO RESUME CONTENT
“Merupakan suatu kehormatan bagi Indonesia untuk kembali dipercaya menjadi tuan rumah Konferensi IAWP. Kepercayaan ini sekaligus menjadi momentum penting bagi Polri untuk terus memperkuat profesionalisme, kapasitas sumber daya manusia (SDM), inovasi, serta kerja sama kepolisian lintas negara,” ujar Nasky dalam keterangan tertulisnya, Minggu (20/9/2026).
Menurut Nasky, agenda IAWP 2026 memiliki relevansi dengan perkembangan tantangan keamanan dan penegakan hukum yang semakin kompleks.
Sejumlah isu yang dibahas dalam konferensi tersebut mencakup kepemimpinan perempuan, pengembangan profesional, investigasi kompleks, identifikasi korban bencana, perdagangan orang, kontraterorisme, kekerasan berbasis teknologi, transformasi teknologi kepolisian, hingga kejahatan transnasional terorganisasi.
“Perkembangan modus kejahatan yang semakin kompleks, lintas batas negara, dan memanfaatkan kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menuntut institusi kepolisian untuk terus beradaptasi,” katanya.
Ia menilai peningkatan kompetensi personel, pertukaran informasi, pemanfaatan teknologi, serta penguatan koordinasi lintas negara menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan kejahatan modern.
IAWP Jadi Ruang Penguatan Kapasitas Polwan
Nasky, yang juga merupakan penulis buku Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat, menilai IAWP tidak hanya menjadi forum yang membahas representasi perempuan dalam institusi kepolisian.
Menurutnya, konferensi tersebut juga menjadi ruang untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan, profesionalisme, dan kemampuan adaptasi polisi wanita dalam menghadapi dinamika keamanan global.
“Polisi wanita dari berbagai negara dapat saling bertukar pengalaman dan praktik terbaik, membangun jejaring profesional, sekaligus memperkuat kerja sama institusional untuk menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks,” ujarnya.
Kehadiran ratusan peserta dari berbagai negara, lanjut Nasky, juga membuka peluang bagi Polri untuk memperluas jejaring profesional dan kelembagaan sekaligus memperkenalkan pengalaman serta inovasi kepolisian Indonesia kepada komunitas penegakan hukum internasional.
Indonesia Dua Kali Dipercaya Jadi Tuan Rumah
Penyelenggaraan IAWP 2026 di Bali menjadi catatan tersendiri karena Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya.
Sebelumnya, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi IAWP ke-58 di Labuan Bajo pada 2021 dengan tema “Women at the Centerstage of Policing”.
“Kepercayaan untuk kedua kalinya ini menjadi catatan penting. Indonesia tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya konferensi, tetapi juga menjadi bagian dari ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman kepolisian dunia,” tutur Nasky.
Ia menilai penyelenggaraan IAWP 2026 dapat menjadi momentum bagi Polri untuk memperluas jejaring internasional, memperkuat kerja sama kelembagaan, serta meningkatkan kolaborasi dalam bidang pengembangan kapasitas kepolisian dan pemberdayaan Polwan.
“Bagi Indonesia, kehadiran puluhan delegasi kepolisian dari berbagai negara merupakan kesempatan strategis untuk memperluas jejaring, memperkuat diplomasi kepolisian, serta membangun kerja sama yang berkelanjutan,” jelasnya.
Tantangan Kejahatan Modern Makin Lintas Negara
Lebih lanjut, Nasky menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi kejahatan transnasional.
Perdagangan orang, terorisme, kejahatan berbasis teknologi, kejahatan transnasional terorganisasi, serta berbagai bentuk kejahatan digital membutuhkan respons penegakan hukum yang tidak hanya dilakukan di tingkat nasional, tetapi juga melalui koordinasi dan pertukaran informasi antarnegara.
“Polri harus terus menjadi institusi yang adaptif terhadap perubahan zaman. Penguatan kemampuan personel, pemanfaatan teknologi, peningkatan kualitas investigasi, serta kerja sama lintas negara merupakan bagian penting dari upaya menghadirkan kepolisian yang profesional dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” tegas Nasky.
Ia berharap IAWP 2026 tidak berhenti sebagai forum pertemuan internasional, tetapi menghasilkan pertukaran pengetahuan dan kerja sama konkret yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi institusi kepolisian dan masyarakat.
“Saya memberikan apresiasi atas kontribusi dan dedikasi Polri dalam mendukung penyelenggaraan IAWP 2026. Semoga forum ini semakin memperkuat hubungan antarpersonel kepolisian, memperluas jejaring kelembagaan, serta mendorong kerja sama kepolisian internasional yang semakin konkret, profesional, dan berkelanjutan,” pungkas Nasky















