Menjaga Kepercayaan Publik Melalui Kegiatan Jumat Curhat Bersama Tokoh Adat dan Masyarakat di Desa Niti

Nasional135 Dilihat
banner 336x280

POLISI NEWS | NTT. Kegiatan Jumat Curhat merupakan salah satu program kepolisian yang bertujuan untuk menciptakan kegiatan yang lebih dekat dengan masyarakat terutama dalam menjalin hubungan yang baik dengan tokoh adat dan masyarakat setempat.

Seperti dilakukan oleh Kapolsek Amanatun Utara bersama tokoh adat dan masyarakat Dusun Kuan Upun, Desa Niti, Kecamatan Kokbaun, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada Jumat (1/12/2023).

banner 336x280

Kapolsek Amanatun Utara didampingi Kanitres Aipda Mustafa Achmad, Kapospol Kokbaun Aiptu Ridwan Husen, Bhabinkamtibmas Bripka Yopi Lassa dan dihadiri oleh Camat Kokbaun Isak G. Bien, SP, Kades Niti Asnat Bansae beserta perangkat desa Niti, tokoh agama, dan tokoh adat dari suku Manu, Bien, dan Lopo beserta anak suku yang berada di Desa Niti.

Dalam kegiatan ini, Kapolsek Amanatun Utara mendengarkan langsung keluhan masyarakat terkait dengan situasi kamtibmas sekaligus laporan terkait pengrusakan hutan adat dan tempat pemujaan suku Manu, Bien, dan Lopo yang berlokasi di hutan Niti, desa Niti, Kecamatan Kokbaun.

Ada beberapa keluhan yang disampaikan oleh masyarakat Dusun Kuan Upun, terutama terkait pengrusakan hutan adat yang menjadi perhatian masyarakat.

Thomas Taniu yang bertindak sebagai jubir menyampaikan bahwa hutan adat yang selama ini menjadi tempat pemujaan sudah dirusakkan oleh oknum berinisial TB dan juga ia meminta agar bisa dibuatkan surat yang isinya mengakui akan hutan adat tersebut.

Namun Kapolsek Amanatun Utara menjelaskan bahwa pengakuan hutan adat bukanlah hal yang mudah dan angin-anginan saja. Terdapat aturan dan standar yang harus dipenuhi agar suatu wilayah dapat diakui sebagai hutan adat oleh negara. Selain itu, pengakuan dari pemerintah juga memungkinkan adanya upaya untuk memelihara dan mengelola hutan adat secara lestari.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula mengenai pentingnya hutan adat bagi masyarakat setempat. Hutan adat tidak hanya menjadi sumber penghidupan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan budaya yang tinggi bagi masyarakat adat. Lingkungan yang alami dan lestari di dalam hutan adat juga memberikan kontribusi positif dalam menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan saat ini, keberadaan hutan adat menjadi sangat penting untuk dipertahankan.

Lanjut Kapolsek, bahwasanya Hutan adat adalah sebuah kawasan yang sudah menjadi warisan para leluhur dan menjadi pusat kehidupan bagi masyarakat adat. Hutan adat tidak hanya disebut sebagai tempat tinggal bagi sebagian masyarakat adat melainkan juga menjadi pusat perekonomian mereka. Berbagai alat-alat dan bahan baku yang dibutuhkan masyarakat adat dapat diperoleh dari rimbunan hutan adat.

Namun, permintaan dari tokoh adat masih menjadi kendala dikarenakan pihak Kabupaten Malaka telah lebih dulu melaporkan dan mengklaim bahwa hutan adat yang dipermasalahkan bukan berada di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Oleh karenanya, diperlukan dukungan dari pihak pemerintah dan lembaga terkait lainnya untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Dalam sebuah negara yang demokratis, hak untuk memanfaatkan sumber daya alam adalah hak yang harus diakui oleh negara. Demikian juga dengan hak masyarakat adat dalam mengelola dan menjaga hutan adat mereka.

Kegiatan seperti Jumat Curhat yang dilakukan oleh Kapolsek Amanatun Utara bersama tokoh adat dan masyarakat setempat dapat menjadi wahana untuk berdiskusi dan menghasilkan solusi yang baik bagi masalah yang dihadapi masyarakat sekitar.

Berdasarkan hasil diskusi, kapolsek memberikan beberapa solusi yang bisa diterapkan guna membantu menyelesaikan permasalahan ini. Pertama, dapat dilakukan pendekatan secara persuasif dan komunikatif dengan pihak Kabupaten Malaka agar bersama-sama mencari solusi yang tepat.

Kedua, dapat meminta bantuan dari lembaga terkait seperti Departemen Kehutanan dan Perhutanan Sosial untuk mendukung pengakuan hutan adat tersebut.

Dan yang Ketiga, adalah memberikan penjelasan secara detail kepada pihak-pihak yang terkait terutama pihak Kabupaten Malaka tentang pentingnya hutan adat bagi masyarakat setempat dan pentingnya pelestarian hutan adat untuk kelestarian lingkungan.

Kesimpulannya, kegiatan Jumat Curhat yang dilakukan oleh Kapolsek Amanatun Utara bersama tokoh adat dan masyarakat Dusun Kuan Upun, Desa Niti, Kecamatan Kokbaun telah berhasil menciptakan ruang dialog yang positif antara kepolisian dan masyarakat setempat.

Kegiatan ini juga telah mampu memberikan pemahaman tentang arti pentingnya hutan adat dan hak masyarakat adat dalam mengelolanya. Oleh karenanya diharapkan untuk terus dilakukan kegiatan-kegiatan semacam ini guna meningkatkan keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

Jurnalis | Roy Saba Kaperwil NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *