Bina Wilayah ke 3 TP PKK Kecamatan Kersamanah Gelar Lomba Pidato

Nasional432 Dilihat
banner 336x280

POLISI NEWS | GARUT. Dalam acara Bina Wilayah Ke-3 oleh Tim Penggerak PKK Kecamatan Kersamanah bertempat di Aula Balai Desa Sukamerang Jln. Cinangka Tengah, Rabu 8 April 2021.

| Pada tahun ini Penyelenggaraan Bina Wilayah (Binwil) disusun secara sederhana tetapi sarat makna dan tidak mengurangi esensi dari kegiatan ini. ” ucap Mila Sugandi Bunyamin yang akrab disapa Ibu Kades.

banner 336x280

Kegiatan yng diawali dengan pembacaan ayat Suci Al-qur’an yang di kumandangkan oleh Euis Tita. Diteruskan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Lagu Ibu Kita Kartini yang dinyanyikan Tim Paduan Suara PKK Desa Sukamerang.

Kata sambutan dalam acara ini dibacakan oleh Pembina TP PKK Desa Sukamerang Bapak Bunyamin, Pembina TP PKK Kecamatan Kersamanah Bapak Muhrom Suhandi., AMP, dan terakhir oleh Ketua TP PKK Kecamatan Kersamanah Nyonya Yanti Muhrom Amd.

Dalam sambutan ketua TP PKK Kecamatan Kersamanah Yanti Muhrom Amd, ia memaparkan sejarah singkat RA. Kartini, Raden Adjeng Kartini, lahir di Jepara Jawa Tengah tanggal 21 April 1879. Atau lebih tepatnya ia dipanggil dengan nama Raden Ayu Kartini, karena pada dasarnya gelar Raden Adjeng hanya berlaku ketika belum menikah, sedangkan Raden Ayu adalah gelar untuk wanita bangsawan yang menikah dengan pria bangsawan dari keturunan generasi kedua hingga ke delapan dari seorang raja Jawa yang pernah memerintah.

“Kartini sendiri menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada tanggal 12 November 1903 yang telah mempunyai tiga istri. Dari pernikahannya tersebut ia dikaruniai seorang anak perempuan bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904.”

Masih kata Yanti ” R. A. Kartini lahir dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yakni bupati Jepara dengan M.A. Ngasirah. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dan dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.”

“Karena orang tua Kartini termasuk orang penting di pemerintahan, maka Kartini diberikan kebebasan untuk mengenyam pendidikan yang lebih dibandingkan perempuan lainnya. Ia sekolah di ELS (Europese Lagere School) walaupun hanya sampai berumur 12 tahun. Di sekolah tersebut Kartini belajar bahasa Belanda.

Dengan keterampilannya berbahasa Belanda, Kartini mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda. Disitulah ia mencurahkan segala unek-uneknya tentang ketidakadilan yang dirasakannya akan beberapa hal yang ia anggap memojokkan wanita pada waktu itu.”

” Pada 17 September 1904, Kartini menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Setelah Kartini meninggal, barulah pemikiran Kartini tentang perempuan di Indonesia mulai banyak menjadi pembicaraan. J.H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda mulai mengumpulkan surat-surat yang pernah ditulis oleh R.A Kartini ketika ia aktif melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berada di Eropa. ” imbuhnya

“Akhirnya disusunlah buku yang awalnya berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’ yang kemudian diterjemahkan dengan judul Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang terbit pada tahun 1911. Buku ini kemudian banyak mengubah pemikiran masyarakat Belanda tentang wanita pribumi. Inilah yang akhirnya membuat Kartini diabadikan sebagai salah satu Pahlawan Nasional yang dikenal memperjuangkan hak wanita.”

Selanjutnya, Yanti Muhrom menjelaskan bahwa ” dalam Binwil ke 3 di Desa Sukamerang dengan tema “Dengan semangat kartini, kita wujudkan perempuan dan keluarga Kersamanah cerdas, tangguh, mandiri, dan sejahtera, ” ucapnya

” Melalui momentum menjelang peringatan Hari Kartini ini, diadakan lomba Pidato yang dsikuti oleh 6 Desa yang ada di Kecamatan Kersamanah Garut, dengan adanya kegiatan ini diharapkan agar para kaum perempuan bisa menjadi generasi wanita yang tangguh dan berakhlak mulia, perempuan yang tahu menempatkan diri sesuai kodratnya dan tidak menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita, dalam hal membantu tugas-tugas suami membangun keluarga, ikut serta pula membangun masyarakat dan juga bangsa negara, untuk mewujudkan keluarga yang sejahtera dan barokah, ” harap Yanti Muhrom Amd

Team One | M. A .Zakariyya SE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *